With this piece, I try to show the three worlds I deal with as an artist. Social media on the web, the walls on the streets and art galleries which all have different circumstances, appeal and ways to approach.
Shifting Spaces: Artwork
With this piece, I try to show the three worlds I deal with as an artist. Social media on the web, the walls on the streets and art galleries which all have different circumstances, appeal and ways to approach.
Shifting Spaces
RURU Gallery with Japan Foundation Jakarta and Wadezig! Present:
SHIFTING SPACES
Bujangan Urban, Darbotz, The Popo, Tuts, MG Pringgotono, Shake, Stereoflow
Curator: Riksa Afiaty
Opening:
Wednesday, 18 February | 7.00 p.m. – finished
Live DJ:
Ali Bomaye
Dangerdope
Kogi
Exhibition:
19 – 28 February (close on Sunday)
11.00 a.m. – 09.00 p.m.
At RURU Gallery
Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 6
Jakarta Selatan 12820
***
Seven street artists: Bujangan Urban, Darbotz, The Popo, Tuts, MG Pringgotono, Shake, and Stereoflow will be presenting their works in RURU Gallery in an exhibition entitled SHIFTING SPACES.Curated by Riksa Afiaty, this exhibition seeks to reexamine the creative practices performed by street artists, as a group or individual nowadays. Basic elements in the convention of street art: space, time, and privacy yet again become the highlights to be discussed. Riksa, invited those artists to discuss, exchange ideas about what might be done by street artists these days.
All in all, this exhibition will be an attempt to shows idea, tactic, and negotiation done by the seven street artists in such spaces. A panel discussion was held previously to hone the ideas that will be expressed and later displayed as a part of the exhibition.
This exhibition project is one of the outputs of Curators Workshop in South East Asiaprogram,organized and supported by the Japan Foundation Jakarta.
***
Free!
W: ruangrupa.org | t: @ruangrupa | f: ruangrupa | e: info@ruangrupa.org
FAB Family for Fiat 500
FAB Family for Fiat 500 Indonesia. Exhibited until February 8th at Lawangwangi Creative Space, Bandung.
Assembly Lines: Exhibition
Sekitar pertengahan 2011 saya melihat karyanya terpampang di beberapa jalanan di Bandung, sempat terbersit bahwa suatu hari saya harus berkolaborasi dengannya dalam sebuah pameran tunggal, memerlukan waktu selama 4 tahun untuk mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan.
Pertama melihat karyanya, saya selalu tertarik dengan bentuk geometisnya yang ditransformasikan menjadi sebuah sosok atau watak. Dan sejauh saya mengenal Adi, karyanya hampir tidak pernah jauh dari idiom musik hip hop, baginya hip hop adalah pemicu terbesarnya sekaligus inspirasinya dalam berkarya. Berlatar belakang seorang seniman graffiti, kini Adi mulai menjelajahi kemungkinan lain dimana dia bisa menguasai dan bermain dalam sebuah ruang.
Menjadi seseorang yang juga menggeluti dunia hiphop, Adi tentu saja fasih dan mengenal modus atau istilah teknis dalam menciptakan sebuah lagu. Metode penciptaan visualnya merujuk dan menggunakan kerangka atau cetak biru yang dia dapatkan di kepalanya saat membuat sebuah untuk beat atau lagu.
Untuk membuat karyanya menjadi sebuah komposisi yang utuh, Adi menggunakan teknik chopping (memotong) dimana sebuah piece yang utuh diambil dan dipotong menjadi penggalan yang lebih pendek. Proses ini mencerminkan sebuah fleksibilitas dimana penggalan-penggalan tersebut memungkinkan untuk dibuat dan diolah lagi menjadi pola baru.
Bermain dengan looping (pola-pola yang diulang) dan layering (cara untuk membaurkan atau mencampurkan) setiap elemen yang berbeda supaya menempati ruang atau frekuensi dengan kualitas yang sama. Dengan kata lain, layering adalah tentang mengabungkan elemen dan komponen berbeda ke dalam sebuah aransemen.
Kita mengenal teknik yang digunakannya dengan istilah kolase dimana beberapa fragmen atau bahan lainnya –biasanya kertas- diatur pada sebuah permukaan.
Di sisi lain, Adi juga berkarya di ruang publik, dia dikenal dengan karakternya; manusia yang diberi nama Anna dan Tommy atau hidung berwarna pink. Character adalah istilah dalam dunia graffiti yang dimaknai sebagai sebuah figur yang menjadi signature seorang seniman.
Karakter biasanya digunakan dan berelasi untuk merespon sebuah ruang, benda atau isu dimana dia ditempatkan. Adi membangun dan mengolah karyanya dari bentuk yang dia kenali lewat ingatan dan pengalaman personalnya, akan tetapi karyanya juga mengajak penonton ikut menarasikan pemahamannya atas karakter dan identitas sebuah ruang.
Kita bisa dengan kasat mata melihat bagaimana repetisi pola-pola tertuang, tumpukan elemen yang disusun, dan cerita yang tersirat lewat karyanya. Pameran ini memperlihatkan bagaimana seorang seniman merakit beberapa disiplin atau pengetahuan tertentu, menjadi sebuah karya atau respon untuk menguji batas-batas kerja artistik tentang bagaimana memproduksi karyanya.
Bagi Adi, setiap disiplin memungkinkan dia untuk membangun dunianya dengan caranya sendiri.
- Riksa Afiaty
Assembly Lines: Mural
This is the mural made near Lir Space. I titled it "Funk Delivery" because it was inspired by the local delivery man that delivers noodles to the houses around Lir Space. The unique thing about this delivery man is that he rides a motorcycle with one hand one the accelerator and the other hand holding a food tray with up to eight noodle bowls.
Assembly Lines: 17th January
Assembly Lines
(17 January - 31 January)
Curated by:
Riksa Afiaty
Opening:
Saturday, 17 January 2015
Starts 4pm
Venue:
Lir Space
Jl. Anggrek 1/33
Baciro, Yogyakarta
Indonesia
Supported by:
Lir Space
Dripsndrops
Brass Donkey
FLYK
Rhema Cans
Pop Mart
A Group Art Exhibition by:
Abi Rama
Argya
Bonggal Hutagalung
Benzig
Dhanny Danot
Dwi Ayu Kartika
Julie
Meliantha Muliawan
Nurachmat Widyasena
Rega Ayunda Putri
Reza Rynaldo Oni
Stereoflow
Safrie Effendi
Stevanus Rionaldo
www.artotelindonesia.com
ShareThis
Powered by Blogger.
